Kapolda Gorontalo Sandang Gelar Adat “Ti Tulai Bala Lo Madala”

Suasana prosesi adat penganugerahan gelar adat kepada Kapolda Gorontalo Brigjenpol Rachmat Fudail yang berlangsung di Rumah Adat Dulohupa, Kota Gorontalo, Kamis (2/8/2018). Rachmat Fudail diberi gelar adat Ti Tulai Bala lo Madala atau Pemimpin yang Berjasa Menjaga Keamanan Negeri oleh Dewan Adat dan Lima Negeri Adat Gorontalo. (Foto: Salman-Humas).

KOTA GORONTALO, Humas – Kapolda Gorontalo Brigjen Pol Rachmat Fudail resmi menyandang pulanga (gelar adat) Gorontalo “Ti Tulai Bala lo Madala”. Gelar yang berarti “Pemimpin yang Berjasa Mengamankan Negeri” diberikan oleh Duango lo adati Hulonthalo (Dewan Adat Gorontalo) bersama Baate Limo lo Pohalaa (lima pembesar negeri adat) yang berlangsung di Yiladia Dulohupa lo Ulipu Hulondhalo (Rumah Adat Dulohupa Gorontalo), Kota Gorontalo, Kamis (2/8/2018).

Baca Juga :  Tujuh Pernyataan Sikap Anti Korupsi Wagub Gorontalo

Pemberian gelar adat ini didasarkan pada prestasi Rachmat Fudail dalam menjaga kondisi kemanan dan ketertiban Gorontalo yang kondusif. Selain itu, Kapolda kelahiran Jakarta 22 Desember 1961 itu dipandang sukses membangun Sekolah Polisi Negara (SPN) di Batudaa, Kabupaten Gorontalo melalui dana swadaya masyarakat, Pemda dan swasta.

Sejumlah prosesi adat harus dijalani Jenderal bintang satu itu bersama istri dan keluarga. Di antaranya prosesi mopopiduduto pulanga (penobatan). Penobatan dilakukan oleh A.W. Lihu selaku Baate lo Limutu (pembesar adat dari negeri Limboto) beserta baate dari empat negeri adat lainnya.

“Pada hari ini Tuanku akan menerima gelar adat dan akan dikukuhkan dengan gelar adat “Ti Tulai Bala lo Madala”. Tanah adalah milik yang mulia, air adalah milik yang mulia, angin adalah milik yang mulia, api adalah milik yang mulia tapi jangan berlaku sewenang-wenang,” demikian potongan tahuda (pesan adat) yang disampaikan dalam bahasa Gorontalo.

Baca Juga :  Pemprov Gorontalo Raih Penghargaan National Procurement Award

Pesan tersebut juga bermakna sumpah adat dan sumpah kenegaraan. Setiap penyandang gelar adat hendaknya bertindak dan bertutur kata yang baik serta memimpin dengan arif dan bijaksana. Bagi khalifah yang melanggar sumpah yang telah diucapkan maka akan mendapatkan biito (sanksi).

Dalam tradisi adat Gorontalo, dikenal dua jenis pulanga (gelar adat) yakni Pulanga Dilito dan Pulanga Tinepo. Pulanga Dilito diberikan kepada Olingia, Huhuhu, Wulea lo Lipu yang sekarang disamakan dengan kedudukan Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, Camat yang memegang kendali menjalankan tugas pemerintahan, kemasyarakatan dan keamanan.

Pulanga Tinepo diberikan kepada putera dan puteri daerah Gorontalo yang berkedudukan sebagai tokoh nasional, pengusaha yang punya kendali terhadap pembangunan dan atau yang mempunyai jasa terhadap daerah Uduluwo Limo lo Pohalaa Gorontalo.

Baca Juga :  Gubernur Gorontalo Bangga SPN Mulai Didik Calon Bintara

Rachmat Fudail menjadi Tauwa (pemimpin) yang ke 64 yang diberikan Pulanga Dilito. Posisinya kini sejajar dengan para Bupati/Walikota/Gubernur dan wakilnya serta pemimpin lainnya yang sudah menerima gelar adat serupa.

Pewarta: Isam

716 total views, 2 views today

Berita Terkait

Gubernur Gorontalo Bangga SPN Mulai Didik Calon Bi... Gubernur Gorontalo Rusli Habibie memberikan selamat kepada siswa calon bintara seusai upacara Diktukba 2018 bertempat di lapangan SPN Polda Gorontalo...
Tags:
author

Author: